PETUAH ULAMA

Wednesday, April 3, 2019

Ngaji Kebangsaan di Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo, Ini Kata Panglima TNI

Ngaji Kebangsaan di Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo, Ini Kata Panglima TNI

SUARAMERDEKA.co.id ■ Panglima TNI, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Nurul Jadid, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, dalam rangka “Ngaji Kebangsaan” yang bertemakan mempererat persatuan, menjaga kesatuan dan membangun Indonesia dibidang akhlak, Selasa (2/4/2019).

Di hadapan sekitar 700 santri dan santriwati, Panglima TNI menyampaikan bahwa Pondok Pesantren adalah samuderanya ilmu pengetahuan, karena bukan hanya mengajarkan ilmu dunia tapi juga ilmu agama untuk membentuk karakter sebuah bangsa.

Panglima TNI mengatakan bahwa Indonesia adalah negara besar dan memiliki wilayah yang sangat luas, mulai dari Utara ke Selatan, dari Miangas sampai Pulau Rote, dengan sumber daya alam yang sangat melimpah termasuk memiliki ratusan suku, ribuan bahasa daerah, budaya, adat istiadat dan agama.

“Itu semua diperlukan persatuan dan kesatuan, ke-bhinneka-tunggal-ikaan serta saling menghormati. Indonesia bisa bersatu karena dipersatukan oleh semangat persatuan dan kesatuan yaitu Bhinneka Tunggal Ika”, ujarnya.

Selanjutnya dikatakan bahwa sebagai Warga Negara Indonesia dituntut untuk bisa mengelola kekayaan sumber daya alam yang sangat melimpah, baik itu hayati maupun hewani. Untuk itu, para santri dan santriwati agar belajar dengan serius di Pondok Pesantren ini.

“Seperti yang sudah diberikan karunia oleh Allah SWT bahwa bangsa Indonesia memiliki kemampuan, ketika lahir adalah sebagai emas. Tinggal bagaimana mengelola anak yang baru lahir itu menjadi emas, maka di Pondok Pesantren Nurul Jadid inilah tempatnya”, pungkasnya.

■ Rasyid/Penkostrad

Saturday, February 9, 2019

Taman Pendidikan Al Qur'an, Adakah yang Peduli DenganMu..?


Oleh : Ustadz Nashrullah Jumadi

Penulis buku “5 Langkah Mudah Membentuk dan Mengoptimalkan Baitul Maal Masjid”/Penganggas Konsep Gerakan membangun desa/kampung berbasis Baitul Maal Masjid/Ketua Lembaga Trainer & Penelitian Keummatan AL HADID/Founder Gerakan Peduli Masjid (GPM) Indonesia
Belum lama, aku menghadiri acara yang diselenggarakan oleh salah satu masjid di Kota Solo. Acara tersebut berlangsung dari pagi hingga menjelang dhuhur tiba, setelah adzan sholat dhuhur dikumandangkan akupun bergegas sholat dengan harus antri berwudhu terlebih dahulu. Disaat menunggu giliran wudhu, akupun tidak membuang kesempatan untuk mencari tahu atau sekedar ingin tahu berbagai pengumuman kegiatan Islam yang terpampang tidak jauh dari tempatku berwudhu. Dari sekian pengumuman yang ku baca , tak satupun yang membuatku tertarik atau sedikit memberikan perhatian, tapi justru aku tertarik pada laporan keuangan masjid yang terpampang dengan sangat jelasnya. Mengapa aku begitu tertarik ? Tak lain karena nominal dana saldo yang begitu fantastis, anda ingin tahu kira-kira berapa juta ? Mungkin kebanyakkan dari anda akan memberikan jawaban tidak kurang dari Rp. 10 jutaan ? Tapi, maaf jawaban anda salah, saldo masjid tersebut mencapai puluhan juta rupiah.

Terus terang baru kali ini aku mendapati dana saldo masjid yang begitu besar, dengan sedikit berharap semoga dana sebesar itu mampu memberikan perhatian umat atau masyarakat di sekitar masjid tersebut dan tidak hanya digunakan untuk membangun dan renovasi masjid semata (pikirku dalam hati). Dan perlu anda tahu, bahwa dana sebesar itu bukanlah berasal dari subsidi pemerintah atau lembaga donor dana lainnya. Sungguh luar biasa, hal ini tentu menunjukkan semangatnya para pengurus dan jama’ah masjid tersebut dalam menggalang dana ummat.

Selidik punya selidik akupun memcoba menanyakan asal dan manfaat dana tersebut pada salah satu ketua remaja masjid yang saat itu kebetulan sedang santai-santai setelah sholat dhuhur selesai. Wah…..besar sekali dana saldo masjidnya, kegiatannya pasti makmur nih…., Tanyaku padanya. Tapi diluar dugaan Sang Ketua remaja masjid tersebut menjawab dengan ringannya, makmur gimana mas ? TPA/TPQ hanya mendapatkan subsidi tidak kurang dari Rp. 150.000,- /bulan, pada hal ada 5 tenaga pengajar dan lebih 50 santri/wati TPA/TPQ. Bagaimana dengan dana sebesar itu TPA/TPQ bisa maju ? Sedangkan para pengurus yang nota bene orang tua itu menghendaki anak-anak sekitar masjid bisa ngaji dengan baik dan punya akhlak yang baik pula ? Begitu sanggahan yang bernada kesal dari Ketua remaja masjid tersebut. Kemudian dia menambahkan, mas…dananya sedang diendapkan dan tak tahu kapan akan dikeluarkan. Lho diendapkan dimana mas ? tanyaku lagi padanya. Dananya diendapkan di bank mas …..jawab sang ketua remaja masjid itu dengan sinisnya

Pembaca sekalian, ketika mendapatkan jawaban tersebut, aku terkejut dan bertanya dalam hati, o..iya…ya dana subsidi TPA/TPQ sebesar Rp.150.000,-/bulan jika dibandingkan dengan dana saldo masjid yang saat ini besarnya mencapai Rp. 30.000.000,-. Kalau diprosentase dana untuk TPA/TPQ hanya 0,005 % saja. Wah dana sebesar itu untuk apa ya….? Kasihan sekali nasibmu TPA/TPQ, kalau masjid aja tidak ada yang peduli dengamu, lalu siapa yang mau memperhatikan masa depanmu ?

Ketika aku sampai di rumah, aku terus saja terpikir akan nasib TPA/TPQ di masjid-masjid saat ini, begitu malang nasibmu. Lalu bagaimana seandainya TPA/TPQ di kota Solo memiliki nasib yang sama..? Sungguh ini pertanda kehancuran generasi masa depan, tak lain karena kita tidak pernah atau kurang memberikan perhatian pada Pendidikan Al Qur an anak-anak dikantong-kantor TPA/TPQ. Masjid-masjid sekarang lebih senang membangun serta kegiatan yang glamor yang menghabiskan dana jutaan rupiah dalam waktu yang singkat, dari pada pengajaran Al Qur an anak-anak  kita.

Oh ….begitu malang nasib TPA/TPQ….? Semoga masih ada orang, lembaga atau pengurus masjid yang memberikan perhatian padamu lebih besar, dari pada perhatian yang lainnya, baik bangunan maupun kegiatan, karena berkat jasa dan perjuanganmu,  anak-anak Islam bisa membaca Al Qur’an, berkat usaha dan pengorbanannmu, umat saat ini kenal dengan  Al Qur’an.  Doa ku untukmu …..Taman Pendidikan Al Qur’an, semoga engkau tidak menjadi anak tiri di masjidmu sendiri……

(Nashrullah Jumadi/ www.baitulmaalmasjid.coml)


Friday, January 25, 2019

Hari Ini, Panglima TNI Kunjungi Pondok Pesantren Buntet Cirebon


SUARAMERDEKA.CO.ID ■ Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P. bersama Kapolri Jenderal Pol Prof. Dr. H.M. Tito Karnavian, Ph.D., melaksanakan kunjungan kerja ke Cirebon, Jawa Barat, Jumat (25/1/2019).

Turut serta dalam kunjungan tersebut, diantaranya Kasal Laksamana TNI Siwi Sukma Adji, S.E., M.M., Aster Panglima TNI Mayjen TNI George Elnadus Supit, S.Sos, Kapuspen TNI Brigjen TNI Sisriadi dan Kapusbintal TNI Laksma TNI Budi Siswanto, S.T., M.A.P.

Dengan menggunakan CN-295 TNI AU, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto beserta rombongan tiba di Bandara Penggung Cirebon, Jawa Barat.

Kedatangan Panglima TNI beserta rombongan disambut antara lain oleh Pangdam-III/Siliwangi Mayjen TNI Tri Soewandono, Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Drs. Agung Budi Maryoto, M.Si., serta Danrem 063/Sunan Gunung Jati Kolonel Arm Maryudi.

Selanjutnya melalui jalur darat, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto beserta rombongan menuju Pondok Pesantren Buntet Cirebon dalam rangka silaturahmi dengan ulama, santri dan tokoh masyarakat.

■ Rasyid / Puspen TNI

Thursday, January 24, 2019

Markas Tentara Cilacap, Diserbu Anak Paud Aisyiyah


SUARAMERDEKA.CO.ID ■ Anak-anak Paud Aisyiyah Kawunganten Kabupaten Cilacap serbu markas Koramil 09/Kawnganten, jajaran Kodim 0703/Cilacap, Kamis (24/01).

Mereka serbu Makoramil untuk mengenal lebih dekat tugas-tugas TNI. Sekaligus menanamkan rasa cinta tanah air dan belajar nilai-nilai kejuangan sebagai upaya menyiapkan generasi muda di usia dini.

Sebanyak 27 anak-anak Paud Aisyiyah, mendapat sambutan hangat Batituud Koramil 09/Kawunganten Serma Mustadi.

Danramil diwakili Serma Mustadi, memberi penjelasan tentang wawasan TNI yang terdiri dari tiga angkatan yaitu Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU).Dijelaskan pula tugas setiap masing-masing angkatan.

Selain pemberian pembekalan, anak-anak juga dikenalkan pada tugas-tugas Koramil, serta memberikan motivasi semangat belajar melalui berbagai kegiatan anggota Koramil.

“Harapannya dapat memotivasi anak usia dini untuk mendukung cita-cita dimasa depan,” jelasnya.

Sementara itu Bunda Paud Aisyiyah Kawunganten, Intan Ristiatuti mengucapkan terima kasih kepada jajaran Koramil 09/Kawunganten.

“Saya lihat anak-anak tadi sangat antusias dan riang sekali dalam mengikuti setiap rangkaian kegiatan, semoga kegiatan ini bisa memacu semangat anak-anak dalam mencapai cita-citanya,” ungkap dia.

Usai kegiatan para anak-anak Paud dan anggota Koramil melaksanakan foto bersama didampingi Bunda Paud dan guru sebagai bentuk kebersamaan dan rasa bangga kepada TNI.

(rilis/PAUD/Rasyid)

Tuesday, January 1, 2019

Update Longsor Sukabumi, BPBD: Korban Tewas 11 Orang, 63 Orang Selamat


SUARAMERDEKA.CO.ID ■ Bencana longsor menerjang puluhan rumah di Dusun Cimapag, Kampung Garehong, Kabupaten Sukabumi, Senin (31/12/18) pukul 17.30 WIB.

Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Eka Widiaman mengatakan longsor menimpa 34 rumah yang dihuni oleh 32 kepala keluarga (KK), terdiri dari 101 jiwa.

"Data sementara, BPBD mencatat ada 63 orang berhasil selamat, tiga orang luka-luka, 11 korban meninggal dunia, dan 24 orang lainnya masih dalam pencarian," ungkapnya ketika dihubungi Radio Dakta, pada Selasa (1/1).

Eka mengatakan, luasan longsor di Sukabumi mencapai 200 meter persegi panjangnya, untuk lebar 100 meter persegi.

"Bupati Sukabumi juga mengintruksikan selama tujuh hari kedepan menjadi massa tanggap darurat," ujarnya.

Menurutnya, kendala dalam proses evakuasi dikarenakan cuaca yang masih terus diguyur hujan dan alat berat. Namun, hingga Selasa sudah diterjunkan dua alat berat untuk membantu evakuasi.

"Proses pencarian masih terus dilakukan dari Senin hingga Selesai malam, yang melibatkan Tim SAR gabungan secara manual dari TNI, Polri, BPBD Kabupaten Sukabumi, dan relawan," katanya.

Wednesday, November 21, 2018

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Yonif Para Raider 433 Kostrad Penuh Hikmat

SUARA MERDEKA ■ Anggota Yonif Para Raider 433 Kostrad melaksanakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 1440 H/2018 M, di Masjid At-Taqwa Asmil Yonif Para Raider 433 Kostrad, Jl. Poros Maros, Bone Sambueja, Kab. Maros, Sulawesi Selatan, Selasa (20/11/2018).

Kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diawali dengan pembacaan ayat suci Alqur'an oleh Ustadz Saifullah dan saritilawah Ny. Balulu kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Komandan Yonif Para Raider 433/JS Kostrad Mayor Inf Yudy Ardiyan Saputro, S.I.P.

Dalam sambutannya, Danyonif Yonif Para Raider 433 Kostrad mengatakan, dengan memperingati peristiwa besar seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini kita dapat diingatkan kembali untuk memperkuat kesadaran dan komitmen untuk mencontoh serta meneladani apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah dalam menjalani kehidupan.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kali ini bertemakan, “Jadikan Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW Tahun 1440 H/2018 M Kita Mantapkan Mental dan Profesionalisme Prajurit TNI Guna Kelancaran dan Keberhasilan Pelaksanaan Tugas dan Pengabdian Kepada Bangsa dan Negara”.

Acara dilanjutkan dengan ceramah yang disampaikan oleh Ustadz H. Sainuddin SR, S. Sos., mengenai bagaimana kita sebagai umat Islam dapat meneladani Nabi Muhammad SAW yaitu dengan cara meneladani ahlak dan perilaku Nabi sebagai pemimpin keluarga.

Hadir pada kegiatan tersebut para tamu undangan dan tokoh agama, sesepuh Warga Julu Siri beserta masyarakat sekitar Asmil Yonif Para Raider 433 Kostrad.

 ■ RASYID / Penkostrad

Tuesday, November 20, 2018

Hasutan Presiden Wahabi Terbongkar ! Hasil Tabayyun Ternyata Prabowo Itu NU Tulen


SUARA MERDEKA ■ Hasutan Prabowo Wahabi dan HTI Terbongkar !

Hasil Tabayyun dengan Kiai Hasib Jombang dan Gus Cholil Situbondo ternyata Prabowo itu NU tulen.

Sebelumnya, isunya kencang. Terutama di kalangan Nahdliyyin. Bahwa Prabowo itu Wahabi. Prabowo mau mengubah sistem negara jadi khilafah. Wow, serem banget.

Dan setiap pemilu, isunya seram-seram. Makin dekat pemilu, makin seram. Malah ada yang ekstrem. Tidak hanya ekstrem kanan seperti Wahabi dan khilafah. Tapi juga ekstrem kiri seperti isu PKI. Bahkan 'sontoloyo' dan 'gerenduwo' juga dapat panggung. Yang terakhir ini paling seram. Tapi, gak mutu. Pakai banget.

Kenapa isu Wahabi dan khilafah yang diangkat? Sebab, Wahabi itu identik dengan 'tuduhan bid'ah'. NU selalu jadi sasaran dan korban. Dengan isu Wahabi, warga NU alergi. Mereka tak akan milih calon presiden Wahabi.

Kenapa isu khilafah? Khilafah dianggap oleh NU sebagai ancaman terhadap NKRI. Maka, khilafah adalah musuh NU. Siapapun calon yang teridentifikasi sebagai pengusung khilafah, NU tak akan memilihnya.

Dua isu itu dianggap efektif untuk menjauhkan pemilih NU dari Prabowo. Karenanya, terus menerus disosialisakan ke publik, terutama warga Nahdliyyin. Oleh siapa? Tentu oleh pihak yang tak ingin Prabowo menang. Apakah ini negative campaign atau black campaign? Bergantung. Jika benar, itu negative campaign. Jika fitnah, itu black campaign.

Apakah benar Prabowo Wahabi? Apakah Prabowo juga berencana mengubah sistem negara jadi khilafah? Pertanyaan ini memang agak aneh dan ganjil. Kenapa? Karena ditujukan kepada seorang tentara. Meski ganjil, isunya tetap kencang.

Dua isu inilah yang menginspirasi seorang kiai sepuh NU untuk melakukan klarifikasi. Tabayun.

Tabayun adalah bagian dari etika berpolitik dan berbangsa. Tanpa tabayun, hanya fitnah dan kegaduhan yang akan diberi ruang untuk terus diproduksi. Karena itu, apa yang dilakukan kiai sepuh NU ini tidak hanya tepat, tapi juga efektif untuk merasionalisasi cara berpikir publik. Terutama warga Nahdliyyin.

Tradisi tabayun, mestinya tidak hanya berlaku pada Prabowo. Seharusnya berlaku juga pada pasangan Jokowi-Ma'ruf. Agar politik kita elegan dan terhormat. Tidak melahirkan calon pemimpin dari fitnah. Juga tidak dari pencitraan.

Jokowi dihajar isu PKI. Perlu klarifikasi terkait dengan identitas orang tuanya. Terabaikannya janji-janji politik Jokowi, juga mesti ada tabayun. Fitnah atau fakta? Yang sekarang lagi santer adalah mobil Esemka. Kapan diproduksi? Mesti jelas. Bulan Oktober yang dijanjikan sudah lewat. Juga tentang ekonomi. Apakah betul negara sedang kesulitan ekonomi sehingga BBM naik, tol naik dan TDL naik? Jangan berhenti di isu. Karena rawan fitnah. Mesti diklarifikasi. Tabayun. Biar clear.

Apa yang diinisiasi oleh Kiai sepuh NU untuk melakukan klarifikasi kepada Prabowo adalah langkah yang bijak. Nama kiai sepuh ini adalah K.H.M.Hasib A Wahab. Trah pendiri NU. Pengasuh pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang. Soal NU, secara kultural, kiai satu ini punya otoritas untuk mewakili. Beliau bertanya kepada Prabowo. Secara langsung. Gentle.

Mohon maaf Pak Prabowo, kata Kiai Hasib sebelum memberi pertanyaan. Islam yang Pak Prabowo anut itu Islam apa? Islam moderat atau Islam radikal sebagaimana Islam Wahabi? Ini pertanyaan mendasar. Syarat utama seseorang bisa dapat dukungan NU.

Didampingi Sandi, Prabowo menjawab: Islam yang saya anut itu Islam moderat seperti NU, Kiai. Saya juga suka melakukan ziarah kubur, suka dengan selawatan, suka dengan tahlilan sebagaimana yang diajarkan para Kiai NU. Jawaban Prabowo tegas. Spontan, tanpa ada keraguan. Apa adanya dan tak dibuat-buat.

Bagi Kiai Hasib, itu belum cukup. Kiyai Hasib pun bertanya kembali. Kalau terpilih menjadi presiden, apakah Pak Prabowo akan mengganti sistem negara/pemerintahan dengan sistem khilafah? Isu ini beredar dan menakut-nakuti kami. Apa jawab Prabowo?

"Saya ini tentara Pak Kiai. Saya sudah didoktrin oleh TNI untuk menjaga dan berpegang pada Pancasila dan NKRI. Saya seorang nasionalis dan agamis. Isu itu gak benar dan hoaks," kata Prabowo.

Dua isu ini, yaitu khilafah dan Wahabi, memang agak sulit bisa menyerang Prabowo. Mengingat Prabowo adalah seorang TNI. Menyerang Prabowo anti NKRI akan kehilangan argumentasinya. Susah mencari korelasinya. Isunya gak tepat.

Khilafah itu perjuangan HTI. HTI tidak berpolitik. Sekarang ada kabar HTI  'lagi mau' belajar berpolitik. Melalui PBB. Sementara pimpinan PBB, Yusril Ihza Mahendra merapat ke Jokowi-Ma'ruf. Dan cukup rajin mengkritik Prabowo-Sandi. Nah, pertanyaan khilafah malah nantinya bisa menyasar ke Jokowi-Ma'ruf yang didukung Yusril, lawyer HTI.

Pertanyaan Kiai Hasib tampaknya sengaja diajukan agar publik melek. Punya nalar yang benar dalam merespons isu-isu hoaks yang masif dan produktif menjelang pilpres ini. Sekaligus menegaskan jangan sampai lahir dan terpilih seorang presiden dengan isu-isu partisan, apalagi pencitraan. Ini strategi cerdas Kiai Hasib.
Pertanyaan Kiai Hasib ke Prabowo sesungguhnya hanya sebagai sarana. Tujuannya? Mencerdaskan publik, terutama warga NU. Agar mereka bernalar terbuka, obyektif, dan rasional. Bicara data, bukan atas dasar like and dislike. Itu tak sehat.

Tak berhenti di situ, Kiai Hasib mengajukan satu pertanyaan lagi. Yang ini lebih politis dan strategis. Apakah ada jaminan dari Pak Prabowo untuk kementerian agama diberikan kepada kader NU? Apa jawab Prabowo? Saya sudah tandatangani di pengajian dengan pesantren di Situbondo (K.H. Cholil As'ad Syamsul Arifin), bahwa jabatan menteri agama akan diserahkan kepada kader NU.

Siapa dia? Misteri. Belum bisa sebut nama. Mekanismenya biasanya diserahkan kepada para sesepuh Kiai NU. Lukman Hakimkah? Sepertinya tidak. Atau Romahurmuziy? Ah, ada-ada aja. Cak Imin? Allahu A'lam.

Kiai Said Agil Siraj, Ketua PBNU, boleh jadi akan ikut terlibat menentukan siapa kader NU yang akan jadi menteri agama. Hanya butuh satu syarat saja. Apa itu? Tarik dukungannya dari Jokowi. Simple, kata para pendukung Prabowo.

Dari tiga pertanyaan di atas, jawaban Prabowo tegas. Bersama NU Prabowo siap menjaga Pancasila dan mempertahankan NKRI. No khilafah, apalagi PKI. No banget. Itulah TNI. Prabowo adalah TNI. Darahnya NKRI. Anda masih ragu? Kebangetan! Kata pendukung Prabowo.

Mencermati ketegasan Prabowo atas tiga pertanyaan Kiai Hasib, tampak jelas, ternyata Prabowo itu punya kesamaan ritual dengan orang NU. Tidak hanya itu, Prabowo juga telah memberi jaminan menteri agama dari kader NU. Dari jawaban Prabowo itu, tak salah jika ada yang menyimpulkan bahwa ternyata Prabowo itu NU.

Jakarta,19/11/2018

 ■ Indha Syahfitri / Sumber: Kumparan

Saturday, November 17, 2018

Resep Cari Istri ala KH Maimun Zubair


Nek milih bojo iku sing ora patiyo ngerti dunyo. Mergo sepiro anakmu sholeh, sepiro sholehahe ibune. (Kalau memilih istri itu yang kurang begitu paham urusan dunia. Sebab seberapa sholehnya anakmu, seberapa (berbanding lurus dengan) kesholehnya ibunya)

Sohabat Abbas iku nduwe bojo ora seneng dandan, nganti sohabat Abbas isin nek metu karo bojone. Tapi beliau nduwe anak ngalime poll, rupane Abdulloh bin Abbas. (Sahabat Abbas itu punya istri tidak suka berhias, sampai sahabat Abbas malu jika keluar dengan istrinya. Tapi beliau memiliki putra alimnya minta ampun, yakni Abdullah bin Abbas)

Sayyidina Husain nduwe bojo anake rojo rustam (rojo persia). Walaupun asale putri rojo, sakwise dadi bojone sayyidina Husain wis ora patiyo seneng dunyo. Mulane nduwe putro Ali Zainal Abidin bin Husain, ngalim-ngalime keturunane Kanjeng Nabi. (Sayyidina Husain punya istri putri raja Rustam (raja Persia). Walaupun asalnya putri raja, setelah menjadi istri Sayyidina Husain sudah tidak begitu suka dunia. Makanya punya putra Ali Zainal Abidin bin Husain, paling alimnya keturunan Kanjeng Nabi.)

Kiai-Kiai Sarang ngalim-ngalim koyo ngono, mergo mbah-mbah wedo’e do seneng POSO. (Kiai-kiai Sarang alim-alim seperti itu, sebab nenek-neneknya suka puasa)

Syekh Yasin Al Fadani (ulama’ asal padang yang tinggal di mekah) iku nduwe istri pinter dagang, nduwe putro loro. Sing siji dadi ahli bangunan sijine kerjo neng transportasi. Kabeh anake ora ono sing nerusake dakwahe Syekh Yasin (Syekh Yasin al-Padangi itu punya istri pandai dagang, punya dua orang putra. Yang satu menjadi ahli bangunan. Yang lain ahli transportasi. Semua putranya tidak ada yang meneruskan dakwah Syekh Yasin)

Neng Al Qur-an (di al-Qur’an)

Istri iku ladang kanggo suami. (Istrimu ladang suami)

Sepiro apike bibit tapi nek tanahe atau ladange ora apik, ora bakal ngasilno pari apik. (Seberapapun bagusnya bibit (padi) tapi jika tanah atau ladangnya tidak baik, maka tidak akan bisa menghasilkan.

Semoga kita menjadi istri yang sholehah. Istri yang dapat mengantarkan suaminya untuk mencapai ridho dan surga-Nya. Istri yang melahirkan anak-anak yang sholeh dan sholehah.

Amin

Oleh : KH. Maimun Zubair


© Copyright 2018 MERDEKA POS | All Right Reserved