Dakwah UAS dan Perilaku Kelompok Liberal



UAS DIPUSARAN NU

Oleh Lidus Yardi

Saya pernah ditanya tentang Ustadz Abdul Somad (UAS) oleh orang Kuansing yang kini tinggal di Bengkalis, Riau. Pertanyaannya, mengapa orang-orang NU banyak yang tidak sejalan dengan ustadz Somad?

Menurut pengamatannya, di Bengkalis banyak orang NU yang tak sejalan dengan UAS. Dan dia pernah bertanya langsung ke pemuka NU di Kuansing tentang ini, katanya, tidak ada jawaban.

Waktu itu saya jawab, ini penilaian saya, NU sekarang memang berbeda dari sebelumnya-sebelumnya. Tentu hal itu dilihat dari sebagian komentar tokoh-tokohnya yang sering kontroversial di media massa, meski komentar-komentar itu kadang bukan atas nama NU atau pengurus NU.

Masalah jenggot misalnya. Dikatakan, semakin panjang jenggot semakin bodoh. Bahkan ada pernyataan bahwa NU itu agama, kalau tidak NU masuk neraka.

Atau, dilihat dari keberpihakan NU dalam pergerakan umat. Terhadap Aksi 212 misalnya, NU pada jajaran tokohnya terkesan dingin, sinis, dan bahkan antipati, meskipun banyak warga NU yang ikut serta di dalamnya.

Begitu juga sepak terjang dari badan otonom NU, yakni Banser dari GP Ansor, yang kerap mengambil sikap kontroversial seperti membubarkan pengajian dari kelompok Islam lain.

Munculnya sosok seperti Abu Janda dengan celotehannya, adalah fenomena yang sulit dilepas dari NU kekinian yang menjadi perbincangan orang-orang. Dan ini berbeda dengan NU sebelum-sebelumnya.

Sejak Muktamar NU ke-33 di Jombang tahun 2015 yang diwarnai kericuhan, isu politik uang, muncul suatu pergerakan ditubuh NU yang kemudian dikenal dengan istilah NU Garis Lurus. Dimana Kiyai Luthfi Bashori disebut-disebut sebagai penggagasnya.

Kericuhan Muktamar NU di Jombang itu diduga telah disusupi oleh kepentingan kelompok liberal dan politikus PKB. Menyikapi kericuhan itu sampai Gus Mus berkomentar, sebagaimana dikutip oleh media massa: 'Saya malu kepada Allah'. Sedangkan Said Aqil berkomentar: 'Saya malu sama Muhammadiyah'.

Kebetulan, dalam waktu yang hampir bersamaan dengan Muktamar NU, Muhammadiyah ketika itu juga mengadakan Muktamar ke-47 di Makassar yang berlangsung damai.

Lalu, mengapa NU hari ini terkesan tidak suka dengan UAS, padahal dari segi pemahaman dan pengamalan agama hampir tidak ada masalah dengan NU? Karena, nampaknya UAS berada dibarisan NU Garis Lurus itu. Dan NU Garis Lurus jelas dianggap ilegal dan berseberangan dengan kepengurusan NU saat ini.

Apalagi UAS pernah menyarankan untuk mengikuti tiga ulama di NU, yaitu Kiyai Idrus Romli, Luthfi Bashori, dan Buya Yahya yang nota bene adalah NU Garis Lurus yang anti dengan liberal dan Syiah.

Meski kemudian pernyataan itu telah diklarifikasi oleh UAS. Bahwa mengikuti ketiga ulama itu bukan berarti tidak mengikuti ulama lain di NU, tapi maksudnya mengikuti dalam meng-counter pemikiran para liberalis yang ada di tubuh NU. Namun, pernyataan itu tentu telah membuat beberapa kalangan NU tidak respek kepada UAS.

Jadi, bagaimana sikap NU terhadap UAS memiliki korelasi terhadap kejadian di Muktamar NU di Jombang itu. Intinya, UAS dengan beberapa tokoh pengurus NU saat ini seperti Said Aqil, tidak sepaham. Said Aqil sendiri dengan sinis pernah mengatakan tidak mengenal UAS.

Semangat juang dan keberpihakan terhadap pergerakan umat Islam, ghirah untuk menegakkan agama Allah, jelas bagian dari UAS yang juga dianggap bermasalah oleh orang-orang tertentu di tubuh NU saat ini. Tidak heran, pernyataan UAS tentang khilafah Islam sebagai solusi bagi persoalan umat Islam kekinian dianggap bermasalah, dituduh berpihak kepada HTI, bahkan anti NKRI. Sampai-sampai tulisan topi crew UAS yang bertuliskan laa ilaha illallah pun dipermasalahkan baru-baru ini.

Padahal, apa yang tidak disukai dari UAS oleh pihak-pihak tertentu dari kalangan NU yang ngaku-ngaku cinta NKRI itu, seperti semangat menegakkan nilai-nilai Islam di Indonesia, memilih pemimpin yang bisa menolong agama Allah, sebenarnya itulah yang dibutuhkan umat Islam di NKRI saat ini.

Bukan justru bersikap tegas dan keras terhadap sesama muslim, tapi berkasih sayang dengan orang-orang kafir!

Wallaahu A’lam

Belum ada Komentar untuk " Dakwah UAS dan Perilaku Kelompok Liberal"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel