FPI Berpotensi Menjadi Ormas Islam Terbesar Pasca Pilpres 2019

HTI DAN FPI BERPOTENSI MENJADI ORMAS TERBESAR
MENGGESER NU PASCA PILPRES 2019

Oleh :  Kyai, Umar Sanusi

Meskipun kontestan Pilpres 2019 adalah parpol parpol yang lolos dalam verifikasi PKPU, akan tetapi dalam persoalan pertarungan perebutan suara, kedudukan ormas - ormas Islam tak bisa disepelekan. Bahkan dukungan ormas Islam diyakini mampu mendongkrak perolehan suara capres cawapres. Artinya dianggap kurang legitimate jika capres cawapres tersebut belum mendapat restu dan dukungan ormas Islam  dan para ulamanya.

Terbukti, proses penetapan kandidat cawapres yang akan mendampingi Prabowo diawali dengan ijtima ulama. Meskipun akhirnya, karena pertimbangan tertentu,  pilihan dijatuhkan ke Sandiaga Uno, tetapi tetap saja disampaikan bahwa ini sudah mendapat restu dari Habib Rizieq Shihab (HRS). HRS dianggap sebagai kunci kekuatan dari 212.

Di kubu yang lain, hadirnya KH. Maruf Amin dipercaya akan secara otomatis membawa gerbong suara kaum nahdziyin. Bahkan di kemudian hari KH. Maruf Amin- pun tidak sungkan sungkan untuk melakukan lobi kepada HRS. Seolah beliau melupakan sepak terjang pemerintah Jokowi yang membuat HRS terusir dari tanah air.

Walhasil, kekuatan umat Islam yang ada pada ormas ormas Islam serta ulamanya adalah barometer yang signifikan apakah pasangan capres cawapres bisa melenggang ke istana atau tidak.

Hal yang tidak diperkirakan sebelumnya. Celoteh Prof. Mahfudz MD dalam acara ILC, 14 Agustus 2018 cukup menyentak emosi publik. Dengan sangat telanjang Prof. Mahfudz MD membongkar para petinggi NU. KH. Maruf Amin yang pada awalnya terkesan sebagai sosok yang zuhud, dibongkar habis oleh Prof. Mahfudz  MD. Menyusul dipanggilnya Romahurmuzy oleh KPK sebagai saksi. Dan belakangan Muhaimin Iskandar juga dipanggil. NU sebagai ormas terbesar sedang dilanda badai.

Parahnya,  sikap politik NU struktural tidak selalu sejalan dengan NU kultural. Artinya, keberadaan KH. Maruf Amin sebagai cawapres diyakini tak akan mampu menarik dukungan kalangan NU kultural.

Di sisi lain HTI dan FPI secara kultural justru banyak didukung oleh kalangan nahdliyin. Pendukung FPI banyak dari kalangan para habaib dan ulama NU. Sedangkan HTI banyak didukung oleh kalangan kampus dan pondok pesantren NU. Meski HTI sudah dicabut badan hukumnya, tetapi pengaruhnya justru semakin meluas di kalangan pondok pesantren saat ini. Syariah dan Khilafah dibahas dalam berbagai forum Ijtima Ulama ahlu sunnah wal jamaah. Kombinasi antara FPI yang berkarakter tegas dan berani , dengan HTI yang berkarakter cerdas dan politis diyakini bisa menggeser kekuatan NU. Sebab, setidaknya, kaum nahdziyin bisa mengungkapkan perasaan dan semangat ber-Islam-nya dengan benar melalui dua ormas ini.

Hal yang juga dilupakan oleh tim sukses pasangan Jokowi adalah bahwa kekuatan 212 itu yang paling dominan adalah dari kekuatan FPI dengan tokoh sentralnya HRS, serta HTI dengan kemampuannya memobilisir opini dan massa pada peristiwa 212. Isu lokal “FPI lawan Ahok” pada saat itu berhasil diangkat oleh HTI menjadi isu nasional. Sehingga gerakan penolakan terhadap pemimpin kafir lebih menasional. Di saat yang sama NU melalui fatwa KH.Said Aqil Sirodj tentang hukum sholat di jalan raya tidak sah, tak dihiraukan oleh masyarakat. Artinya kekuatan NU di saat itu telah dikalahkan oleh HTI dan FPI.

Apakah fenomena Ahok pada pilpres 2019 bisa terulang? sangat mungkin. Ini disebabkan sikap pemerintah Jokowi yang dianggap tidak ramah terhadap ulama dan ormas Islam yang berseberangan dengan kepentingan politiknya. Terusirnya HRS dari tanah air serta pencabutan badan hukum HTI adalah kesalahan fatal pemerintah Jokowi. Dan momentum pilpres 2019 bisa dianggap sebagai momentum untuk memberi hukuman terhadap pemerintah Jokowi. FPI yang terus berkembang dan semakin melekat di hati umat, serta HTI yang dukungannya diperkirakan oleh Prof. Mahfudz MD sebesar  9 % jumlah penduduk Indonesia atau setara dengan 24 juta lebih adalah potensi kekuatan yang tidak bisa dianggap enteng.

Betul, KH. Maruf amin telah berupaya melobi HRS. Meski kemudian gagal. Tetapi apakah KH. Maruf Amin bisa membujuk HTI? Sementara HTI sudah dibubarkan oleh pemerintah Jokowi? Tampaknya dalam pertarungan politik di pilpres 2019 NU adalah satu satunya ormas Islam yang secara resmi mendukung status quo. Dan kekalahan PDIP otomatis menjadi kekalahan NU juga. Sedangkan pada pilgub yang lalu, PDIP terbukti kalah di berbagai daerah.

Di kubu yang lain, pasangan Prabowo – Sandiaga Uno dipastikan akan memperoleh berkah dari pertarungan politik antara pemerintah Jokowi  versus HTI dan FPI di 2019 mendatang. Sebagaimana pilgub DKI yang lalu. Gerindra sebagai parpol kecil terbukti mampu menggulung  PDIP. Berkah dari aksi 212. Mengantarkan Anies-Sandiaga Uno pada kursi penguasa DKI.

Jika tim pemenangan Prabowo cerdas dalam melihat situasi. Maka yang harus dilakukan adalah semakin menguatkan dukungan HRS ke Prabowo-Sandiaga Uno, serta melakukan dialog dengan para mantan petinggi HTI. Dan bisa memberi kepastian bahwa Prabowo-lah yang akan menjemput HRS pulang ke tanah air. Serta membersihkan namanya, serta mengembalikan kembali status badan hukum HTI sehingga HTI bisa beraktifitas sebagaimana sebelumnya.

Jika ini terjadi otomatis PDIP terkalahkan. Dan kekuatan NU tergeser oleh HTI dan FPI. Dakwah HTI dan FPI tak dipersekusi lagi, dan Prabowo-Sandiaga Uno bisa menjalankan pemerintahannya dengan aman jauh dari hiruk pikuk pertentangan bernuansa agama sebagaimana terjadi pada pemerintahan Jokowi saat ini.

Wallahu a’lam bi as showab.


Belum ada Komentar untuk " FPI Berpotensi Menjadi Ormas Islam Terbesar Pasca Pilpres 2019"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel